Filosofi Burasa, Sajian Khas Lebaran di Sulawesi Selatan
INDEKSMEDIA.ID — Di setiap tahun perayaan Idul Fitri, ritual tak termakan zaman yang dilakukan ibu-ibu di Sulawesi Selatan adalah membuat Burasa (ma’burasa).
Burasa’ merupakan makanan khas Sulawesi Selatan, sejenis lontong namun menggunakan santan dan dibungkus menggunakan daun pisang.
Siapa sangka Burasa’ adalah makanan yang memiliki sejarah dan filosofi yang mendalam.
Adonan Burasa’ yang terbuat dari beras, santan dan garam tersebut, belum matang pada saat akan dibungkus dengan daun pisang.
Setelah dibungkus daun pisang, umumnya dua bagian dari daun pisang disatukan dan diikat menggunakan tali rafia.
Tahap selanjutnya merebus Burasa’ yang telah diikat, proses perebusan ini memakan waktu yang cukup lama.
Nurmi (67), warga Palopo yang rutin membuat Burasa’ khususnya untuk perayaan hari lebaran.
Ia lebih memilih untuk memasak menggunakan tungku api dengan kayu bakar ketimbang dengan kompor gas.
“Butuh waktu 2-3 jam untuk merebus, jadi sebaiknya menggunakan kayu bakar sekaligus untuk menjaga cita rasanya,” katanya kepada indeksmedia.id Kamis, (20/04).
Dilansir dari akun Tiktok Nigellaid, burasa memiliki cerita sejarah yang panjang.
Dahulu, laki-laki Bugis maupun Makassar dikenal sebagai pelayar dan perantau yang ulung.
Banyak pemuda yang berlayar untuk mengumpulkan rezeki termsuk uang pannai.
Biasanya bekal yang dibawa oleh mereka adalah nasi dan ikan, namun bekal ini cepat basi dan tak dapat dimakan sebelum sampai tujuan.
Masalah ini diatasi oleh para kaum hawa, mereka mengolah beras dengan dibungkus daun pisang.
Selanjutnya diikat dan direbus lama, agar dapat bertahan lebih lama juga.
Akhirnya lahirlah makanan bernama Burasa, lontong santan berbentuk pipih dan beraroma daun pisang, santan, dan garam yang menyatu dalam beras.
Makna Filosofis Burasa’
Sebelumnya telah di sampaikan bahwa Burasa’ disatukan dan diikat, memiliki makna menyatukan dan solidaritas untuk membentuk nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat umum Sulawesi Selatan.
Nilai tersebut adalah Sipakatau (saling menghargai/memanusiakan), Sipakalebbi (saling memuliakan) dan Sipakainge’ (saling mengingatkan) dalam keluarga dan masyarakat.
Burasa’ diperkirakan telah ada sejak abad ke-VII, membuat burasa sudah menjadi tradisi turun temurun di Sulawesi Selatan.
Burasa’ juga dikenal sebagai Bokongna Passompe (bekalnya perantau), sebab sudah menjadi tradisi mereka yang akan pergi merantau jauh, akan dibekalkan burasa’. (Cca)
Tinggalkan Balasan